Mundurnya Menkes Belanda Akibat Kelelahan Menangani Kasus Corona

Mundurnya Menkes Belanda Akibat Kelelahan Menangani Kasus Corona

Mundurnya Menkes Belanda Akibat Kelelahan Menangani Kasus Corona – Otoritas kesehatan Belanda hari ini melaporkan tidak ada kematian baru dalam semalam akibat pandemi coronavirus untuk pertama kalinya sejak awal Maret.

Secara resmi Belanda telah melaporkan 49.658 kasus infeksi Virus Corona dengan 69 orang dinyatakan positif selama 24 jam terakhir. https://www.unainfografiaaldia.com/

Secara keseluruhan 6.090 orang telah meninggal sampai Selasa (23/6/2020) WIB.

“Belum ada laporan kematian,” kata Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat (RIVM) di situs webnya seperti ditulis dailymail.co.uk. https://www.unainfografiaaldia.com/

Namun RIVM memperingatkan bahwa ‘ada keterlambatan antara hari seorang pasien dirawat di rumah sakit atau meninggal dan ketika itu benar-benar dilaporkan’, yang berarti kematian pada akhir pekan mungkin belum ditandai.

Mundurnya Menkes Belanda Akibat Kelelahan Menangani Kasus Corona

Belanda mencatatkan rekor tanpa ada kematian dalam 24 jam terakhir sejak Maret 2020.

Sebagai negara berpenduduk lebih dari 17 juta orang, Belanda mengambil pendekatan ‘penguncian cerdas’ terhadap pandemi – tidak seketat beberapa negara Eropa lainnya.

Restoran, bioskop, kafe, museum, dan teras semuanya diizinkan untuk dibuka pada 1 Juni 2020 tetapi dengan persyaratan menjaga jarak sosial.

Sekolah-sekolah juga sebagian besar telah dibuka kembali.

Tetapi polisi anti huru hara harus menggunakan meriam air dan menangkap ratusan orang setelah bentrokan terjadi pada hari Minggu selama protes atas langkah-langkah penanganan virus.

Pada 16 Juni 2020 dilaporkan nol kematian.

Menteri Kesehatan Belanda untuk layanan medis, Bruno Bruins (56), mengundurkan diri dari jabatannya. Hal ini ia umumkan pada hari Kamis (19/3/2020) usai sehari sebelumnya mengalami kolaps akibat kelelahan bekerja memimpin penanganan virus corona COVID-19.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan Bruno mundur dari posisinya karena tidak tahu kapan bisa pulih dan kembali bertugas. Sementara itu wabah virus corona terus menyebar sehingga dibutuhkan segera sosok yang bisa memimpin upaya penanganan.

Awalnya, Bruno Bruins diserang berbagai kritikan dari parlemen Belanda. Sang menteri pun mencoba menerangkan situasi yang terjadi di Belanda terkait mewabahnya virus corona. Bruno diketahui kolaps saat melakukan rapat parlemen membahas penanganan virus corona pada Rabu (18/3/2020). Menteri Kesehatan Belanda Bruno Bruins terekam kamera jatuh saat sidang parlemen. Kondisi yang disebutnya kelelahan karena menangani wabah virus corona.

Bruins terlihat jatuh di belakang mimbar pembicara ketika mendapat pertanyaan. Dia sempat dibantu berdiri oleh koleganya sesama menteri. Sekitar 35 menit dalam persidangan, pemimpin paling kanan Geert Wilders mulai mendesak Bruins tentang ketersediaan masker bedah di “Negeri Kincir Angin”.

Bruins tiba-tiba terhuyung mundur dan tumbang. Dia langsung ditolong dan dibantu berdiri oleh Menteri Sosial Wouter Koolmees. Setelah berdiri lagi, Bruins menyeruput segelas air dan berjalan keluar dari parlemen.

“Saya rasanya ingin pingsan karena kelelahan dan minggu-minggu yang intens. Sekarang saya sudah lebih baik. Saya akan pulang untuk beristirahat sebentar supaya besok bisa kembali melawan virus corona,” tulis Bruno di media sosial

Sehari setelah pingsan karena kelelahan selama debat parlemen mengenai pandemi corona COVID-19, Bruno Bruins menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.

Bruins mengatakan dia pingsan setelah berminggu-minggu bekerja keras, demikian dilansir Reuters yang dikutip Antara.

Mundurnya Menkes Belanda Akibat Kelelahan Menangani Kasus Corona

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte mengatakan Bruins telah berhenti karena tidak mengetahui waktu yang dibutuhkannya untuk kembali sehat.

Dalam pernyataannya, pria 56 tahun ini mengatakan tidak lagi mampu secara fisik untuk mengemban tugas ini.

Dia menggambarkan pemberantasan virus corona sebagai olahraga profesional tingkat tinggi.

“Saya menyimpulkan bahwa tubuh saya tidak bisa lagi menangani ini karena kelelahan,” kata Bruno

“Sifat krisis adalah sedemikian rupa sehingga menuntut seorang menteri yang dapat siap segera melakukan berbagai upaya penuh,” kata Rutte saat konferensi pers yang disiarkan televisi.

Tidak seperti beberapa negara Eropa lainnya, Belanda hanya memilih untuk menutup sekolah dan tempat penitipan anak, dan belum menutup perbatasannya. Saat ini negara itu tercatat memiliki lebih dari 2.000 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi.

Menurut sumber pemerintah, seperti dikutip National Post, Raja Willem-Alexander menerima pengunduran diri Bruins, seperti yang direkomendasikan oleh Perdana Menteri Mark Rutte. Raja juga tidak lupa berterima kasih atas semua peran dan jasa yang diberikan Bruins selama menjalankan tugas-tugasnya yang penting.

Sementara itu, pemerintah Belanda mengumumkan bahwa Bruins sudah ada penggantinya. Sementara ini adalah Wakil Perdana Menteri Hugo de Jonge.

Amsterdam bergerak cepat menangkal wabah tersebut dengan menutup sekolah, bar, restoran, kelab seks, hingga penjualan ganja pada Minggu (15/3/2020). Antrean dengan cepat dlaporkan terjadi di kedai kopi yang biasanya menjual ganja, dengan pemerintah menekan agar setiap tempat usaha mematuhi aturan. Menteri Pendidikan Arie Slob menyatakan, mulai Senin (16/3/2020) hingga 6 April, pusat penitipan anak dan sekolah diliburkan.

Pengecualian diberikan kepada pusat penitipan yang mempunyai anak dengan jenis profesi orangtua yang tergolong sangat penting. “Semua restoran dan bar harus tutup pukul 18.00. Begitu juga sauna, pusat kebugaran, kelab seks, dan penjualan ganja,” jelas Bruins.

Kantor berita NOS melaporkan, menyikapi pengumuman pemerintah, sekolah-sekolah sudah mulai menerapkan pembelajaran via internet. Bruins menjelaskan, kebijakan yang dia terapkan terjadi buntut kafe di bagian perbatasan selatan yang diisi oleh warga Belgia. Wali Kota Knokke yang berbatasan dengan Belanda, Leopold Lippens, merespons dengan meminta agar warga Belgia tidak bepergian ke Belanda. “Jika Anda berani berkunjung, maka Anda akan kembali ke Belgia dengan risiko membawa virus corona itu. Cara ini bisa membuat wabahnya makin tak terbendung,” kata dia.

Langkah-langkah untuk membatasi penyebaran virus corona baru di Belanda berhasil mengurangi separuh tingkat infeksi. Tapi, upaya itu harus berlanjut biar benar-benar efektif.

Tingkat infeksi virus corona yang tercatat di Belanda, dengan lebih dari 1.000 orang meninggal, menurun tajam sejak pemerintah menutup semua sekolah, restoran, dan bar sejak bulan lalu.

“Langkah-langkah itu tampaknya berhasil”, kata Kepala Institut Kesehatan Masyarakat Belanda Jaap van Dissel dalam sebuah briefing dengan Parlemen Belanda. “Sekarang sangat penting untuk melanjutkannya”. “Jumlah rata-rata orang yang terinfeksi oleh seseorang yang membawa virus corona telah turun di bawah 1 (digit %) di Belanda sejak pertengahan Maret,” ujar Van Dissel, Rabu (1/4), seperti dikutip Reuters.

“Pada tingkat itu, infeksi akan perlahan-lahan berkurang. Tetapi, itu tidak berarti kita bisa melonggarkan langkah-langkah kita, karena kemudian tingkat infeksi akan naik lagi,” tegas dia.

Meskipun tingkat infeksi lebih rendah, jumlah pasien di unit perawatan intensif akan terus meningkat tajam dalam beberapa minggu mendatang, Van Dissel menambahkan, mungkin mencapai puncak sekitar 2.400 orang di akhir April. Rumahsakit di Belanda saat ini memiliki sekitar 1.600 tempat tidur perawatan intensif yang tersedia, dan berencana untuk meningkatkan jumlah ini menjadi 2.400 tempat tidur pada Minggu (5/4).

Pada Senin (30/3), jumlah kematian di Belanda akibat epidemi virus corona mencapai 1.039 orang, sementara jumlah kasus infeksi yang terkonfirmasi meningkat menjadi 12.595 kasus.